Home­Portal­FAQ­Search­Memberlist­Usergroups­Register­Log in
Latest topics
» Info Alumni : Para Alumni Galang Bantuan untuk SMAN 1 Bireuen
Tue Oct 27, 2009 10:47 am by apacut2005

» Forum Sebelumnya
Wed Sep 16, 2009 2:41 am by hack87

» ngen baroe
Wed Sep 16, 2009 2:33 am by hack87

» Pajoeh Mie Yak
Mon Jul 13, 2009 12:29 pm by azli_mr

» UN 2009 di Bireuen
Fri Jun 05, 2009 2:21 pm by hack87

» Melancong ke FK Sumatera
Fri Jun 05, 2009 2:19 pm by hack87

» Ketergantungan pada NGO Harus Dikurangi
Fri Jun 05, 2009 2:18 pm by hack87

» Keadaan Sekolah sekarang?
Tue Apr 21, 2009 4:03 pm by Admin

» Ayo Kenalan!
Fri Apr 17, 2009 10:26 am by hack87

Statistics
We have 35 registered users
The newest registered user is agus irwanto

Our users have posted a total of 72 messages in 37 subjects
November 2009
MonTueWedThuFriSatSun
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
CalendarCalendar
Affiliates
free forum
Facebook
Follow us on Twitter
Perampok Tewas Gantung Diri di Sel Polisi
Tue Aug 05, 2008 1:26 pm by hack87
Harian AcehSatu dari
dua tahanan Polres Bireuen yang merupakan komplotan perampokan dumtruk
yakni Misyandi alias Adi, warga Takengon, Aceh Tengah, ditemukan tewas
gantung diri dalam sel tahanan Mapolsek Juli, Jumat (1/Cool siang.

Tersangka
perampok lainnya, A, 29, juga warga Takengon, mengatakan sebelum
gantung diri temannya itu masuk ke toilet. “Tetapi dia tidak
keluar-keluar. Katanya ambil wudhuk dan mau sembahyang,” ungkapnya.



Melihat
ada yang tidak beres, A melaporkan kepada petugas jaga. Setelah pintu
toilet didobrak polisi, ternyata korban sudah tewas tergantung dengan
tali celana training yang dipakainya. Leher Misyandi terjerat dengan
tali tersebut ke jeruji besi. Selanjutnya dibawa ke RSUD dr. Fauziah.

Kapolres
Bireuen AKBP Teuku Saladin, SH, didampingi Kasatreskrim AKP Trisna
Safari, SH, dan Kapolsek Juli Ipda Hangga Utama di Mapolsek Juli,
kemarin, mengatakan perampok yang tewas gantung diri itu merupakan satu
dari dua pelaku yang diserahkan warga Kecamatan Juli kepada polisi.
Mereka merupakan anggota komplotan perampok dumtruk milik warga Aceh
Tamiang.

Saladin
menuturkan, pada Selasa (29/7) pagi, warga Mane Jingki menyerahkan dua
orang yang dicurigai di desa itu ke Polsek Juli. Dari hasil pemeriksaan
diketahui kalau mereka merupakan anggota komplotan perampok dumtruk
yang disupiri Zulkifli Siregar, 39, warga Aceh Tamiang.

“Kebetulan
pada pagi itu juga kami terima seorang warga yang diserahkan masyarakat
yang mengaku menjadi korban perampokan dumtruk. Tubuhnya dalam keadaan
sekarat dibuang ke jurang di kilometer 27 Jalan Bireuen-Takengon,”
timpal Hangga Utama, Kapolsek Juli.

Hasil
pengembangan dari dua pelaku tersebut, kata dia, polisi melakukan
pengejaran terhadap pelaku serta mencari jejak dumtruk yang dirampok.

Perburuan
itu membuahkan hasil, dumtruk yang telah diganti plat nomor menjadi BL
9012 Z itu (plat asli belum diketahui) ditemukan di sebuah rumah di
kawasan Juli dalam kondisi telah dipreteli. Kabin dan bak truk telah
terpisah dari rangka. Polisi juga menciduk tiga pelaku yang mempreteli
mobil itu, yakni C, 29, warga Juli Cot Paseh, A, 25 warga Juli Cot
Mesjid, dan H, 29, warga Teupin Mane. Semuanya warga Kecamatan Juli,
Bireuen.

Sementara
tim lainnya melakukan pengejaran ke arah barat sehingga berhasil
mengamankan satu Kijang Kapsul warna silver dengan Nonpol B 8540 PB.
Mobil itu merupakan kendaraan yang digunakan kawanan perampok dumtruk
lainnya yang masih terus dicari. Mobil itu dihadang jajaran Polres
Pidie di depan Mapolsek Mutiara Timur, namun lolos karena panik.
Kawanan perampok itu kemudian meninggalkan mobil yang belum diketahui
pemiliknya itu di pasar Beureunuen.

“Jadi
dua anggota komplotan perampok dumtruk berhasil kami amankan, salah
satunya tewas gantung diri. Sementara pelaku yang mempreteli mobil ada
tiga, kawanan perampok lainnya sejumlah lima orang masih kami
selidiki,” kata Saladin.
(del) *Pengakuan Korban Perampokan

“Saya Dijerat, Dipukul, dan Dilempar ke Jurang”


Zulkifli
Siregar, supir dumtruk yang dirampok itu menceritakan kembali kisah
yang dialaminya selama semalaman berada dalam sekapan kawanan perampok.
Warga Aceh Tamiang itu mengaku lehernya dijerat dan tubuhnya dibuang ke
jurang yang nyaris membuat nyawanya melayang.

Hari itu, Senin (28/7), Zulkifli lagi ngetime
di Aceh Tamiang, menunggu orderan. Tiba-tiba datang seorang wanita
menyodorkan orderan pindah barang dari Lhokseumawe ke Aceh Tamiang.
“Maka terjadilah tawar menawar harga hingga diputuskan Rp1,4 juta.
Selanjutnya dengan dua orang laki-laki, orang suruhan wanita itu, saya
meluncur ke Lhokseumawe. Dua laki-laki itu mengajak saya minum air tebu
di simpang Krueng Geukuh,” tuturnya.

Tiba-tiba
datang satu mobil kijang kapsul, di dalam mobil ada empat laki-laki
yang merupakan teman dari dua laki-laki yang ikut dengan Zulkifli dari
Tamiang. Penumpang mobil itu memintanya ikut dalam mobil kijang
sementara dumtruk-nya biar dibawa seorang laki-laki kawan mereka.

“Saya
sempat keberatan, tetapi dibujuk dengan alasan agar saya bisa rileks
karena kecapaian menempuh perjalanan jauh dari Kuala Simpang, akhirnya
saya setuju ikut mereka. Jalan-jalan katanya,” ujar Zulkifli menirukan
kata-kata anggota komplotan itu.

Seterusnya
mobil sempat beriringan menuju arah Bireuen. “Dalam mobil kijang ada
lima laki-laki, sesampai di suatu kios minyak, kawanan itu meminta uang
untuk mengisi BBM dumtruk. Saya kasih Rp100 ribu, kami pun melanjutkan
perjalanan ke arah Jalan Takengon,” paparnya.

“Tiba-tiba
salah seorang laki-laki di samping saya memaksa memborgol kedua ibu
jari tangan saya. Setelah sukses, seorang lainnya menjerat leher saya
dengan tali. Saya lupa tali apa, yang lainnya memukuli saya
membabi-buta sampai babak belur. Setelah itu, saya tak ingat apa-apa
lagi,” lanjutnya.

Saat
siuman, Zulkifli merasakan dirinya berada di dalam sebuah jurang
(belakangan diketahui di kilometer 27 Jalan Bireuen-Takengon). “Pakaian
saya semua diambil, dompet, Ha. Semuanya, saya hanya pakai sempak.
Dengan sisa-sisa tenaga saya naik ke badan jalan. Beberapa kali saya
coba hentikan mobil tetapi tidak ada yang mau berhenti. Mungkin mereka
mengira kalau saya telah meninggal,” ujarnya.

Dia
maklum orang tak mau membantunya, karena Zulkifli tidak pakai baju,
tengah malam lagi. “Lalu saya berjalan menyusuri jalan. Jika ada mobil
saya menyingkir ke hutan, ketika mobil lewat saya lanjutkan
perjalanan,” kisahnya.

Sampai
di sebuah rumah warga, Zulkifli menceritakan semua yang dialaminya.
“Mereka kasih saya kain sarung, di rumah kedua saya dikasih baju dan
celana. Saya minta kepada warga itu untuk menjemput aparat desa agar
saya bisa diantar ke polisi,” katanya.

Atas
bantuan warga, menjelang pagi, Zulkifli ditumpangkan kepada sebuah
mobil Taft yang melintas dan diantar sampai Polsek Juli. Di sana dia
ceritakan semua yang terjadi. Aparat cepat bergerak memburu tersangka.
“Sementara saya dibawa ke RSUD Fauziah untuk diobati. Duh, masih sakit
sekali, saya kira saya akan meninggal, ternyata masih diberi umur panjang,” kata suami dari Lina dan ayah dari enam orang anak itu.(del)


Comments: 0
Log in
Username:
Password:
Log me on automatically at each visit:
:: I forgot my password
Search
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Who is Online ?
In total there is 1 user online :: 0 Registered, 0 Hidden and 1 Guest

None

Most users ever online was 5 on Sat May 02, 2009 3:36 pm