hack87 Aneuk Senior


Number of posts: 30 Age: 22 Tahun Masuk SMA 1: 2005 Tahun Lulus SMA 1: 2005 Lokasi Sekarang: Depok Points: 11 Reputation: 0 Registration date: 2008-07-26
 | Subject: Perampok Tewas Gantung Diri di Sel Polisi Tue Aug 05, 2008 1:26 pm | |
| Harian Aceh—Satu dari dua tahanan Polres Bireuen yang merupakan komplotan perampokan dumtruk yakni Misyandi alias Adi, warga Takengon, Aceh Tengah, ditemukan tewas gantung diri dalam sel tahanan Mapolsek Juli, Jumat (1/ siang. Tersangka perampok lainnya, A, 29, juga warga Takengon, mengatakan sebelum gantung diri temannya itu masuk ke toilet. “Tetapi dia tidak keluar-keluar. Katanya ambil wudhuk dan mau sembahyang,” ungkapnya. Melihat ada yang tidak beres, A melaporkan kepada petugas jaga. Setelah pintu toilet didobrak polisi, ternyata korban sudah tewas tergantung dengan tali celana training yang dipakainya. Leher Misyandi terjerat dengan tali tersebut ke jeruji besi. Selanjutnya dibawa ke RSUD dr. Fauziah. Kapolres Bireuen AKBP Teuku Saladin, SH, didampingi Kasatreskrim AKP Trisna Safari, SH, dan Kapolsek Juli Ipda Hangga Utama di Mapolsek Juli, kemarin, mengatakan perampok yang tewas gantung diri itu merupakan satu dari dua pelaku yang diserahkan warga Kecamatan Juli kepada polisi. Mereka merupakan anggota komplotan perampok dumtruk milik warga Aceh Tamiang. Saladin menuturkan, pada Selasa (29/7) pagi, warga Mane Jingki menyerahkan dua orang yang dicurigai di desa itu ke Polsek Juli. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau mereka merupakan anggota komplotan perampok dumtruk yang disupiri Zulkifli Siregar, 39, warga Aceh Tamiang. “Kebetulan pada pagi itu juga kami terima seorang warga yang diserahkan masyarakat yang mengaku menjadi korban perampokan dumtruk. Tubuhnya dalam keadaan sekarat dibuang ke jurang di kilometer 27 Jalan Bireuen-Takengon,” timpal Hangga Utama, Kapolsek Juli. Hasil pengembangan dari dua pelaku tersebut, kata dia, polisi melakukan pengejaran terhadap pelaku serta mencari jejak dumtruk yang dirampok. Perburuan itu membuahkan hasil, dumtruk yang telah diganti plat nomor menjadi BL 9012 Z itu (plat asli belum diketahui) ditemukan di sebuah rumah di kawasan Juli dalam kondisi telah dipreteli. Kabin dan bak truk telah terpisah dari rangka. Polisi juga menciduk tiga pelaku yang mempreteli mobil itu, yakni C, 29, warga Juli Cot Paseh, A, 25 warga Juli Cot Mesjid, dan H, 29, warga Teupin Mane. Semuanya warga Kecamatan Juli, Bireuen. Sementara tim lainnya melakukan pengejaran ke arah barat sehingga berhasil mengamankan satu Kijang Kapsul warna silver dengan Nonpol B 8540 PB. Mobil itu merupakan kendaraan yang digunakan kawanan perampok dumtruk lainnya yang masih terus dicari. Mobil itu dihadang jajaran Polres Pidie di depan Mapolsek Mutiara Timur, namun lolos karena panik. Kawanan perampok itu kemudian meninggalkan mobil yang belum diketahui pemiliknya itu di pasar Beureunuen. “Jadi dua anggota komplotan perampok dumtruk berhasil kami amankan, salah satunya tewas gantung diri. Sementara pelaku yang mempreteli mobil ada tiga, kawanan perampok lainnya sejumlah lima orang masih kami selidiki,” kata Saladin.(del) *Pengakuan Korban Perampokan “Saya Dijerat, Dipukul, dan Dilempar ke Jurang” Zulkifli Siregar, supir dumtruk yang dirampok itu menceritakan kembali kisah yang dialaminya selama semalaman berada dalam sekapan kawanan perampok. Warga Aceh Tamiang itu mengaku lehernya dijerat dan tubuhnya dibuang ke jurang yang nyaris membuat nyawanya melayang. Hari itu, Senin (28/7), Zulkifli lagi ngetime di Aceh Tamiang, menunggu orderan. Tiba-tiba datang seorang wanita menyodorkan orderan pindah barang dari Lhokseumawe ke Aceh Tamiang. “Maka terjadilah tawar menawar harga hingga diputuskan Rp1,4 juta. Selanjutnya dengan dua orang laki-laki, orang suruhan wanita itu, saya meluncur ke Lhokseumawe. Dua laki-laki itu mengajak saya minum air tebu di simpang Krueng Geukuh,” tuturnya. Tiba-tiba datang satu mobil kijang kapsul, di dalam mobil ada empat laki-laki yang merupakan teman dari dua laki-laki yang ikut dengan Zulkifli dari Tamiang. Penumpang mobil itu memintanya ikut dalam mobil kijang sementara dumtruk-nya biar dibawa seorang laki-laki kawan mereka. “Saya sempat keberatan, tetapi dibujuk dengan alasan agar saya bisa rileks karena kecapaian menempuh perjalanan jauh dari Kuala Simpang, akhirnya saya setuju ikut mereka. Jalan-jalan katanya,” ujar Zulkifli menirukan kata-kata anggota komplotan itu. Seterusnya mobil sempat beriringan menuju arah Bireuen. “Dalam mobil kijang ada lima laki-laki, sesampai di suatu kios minyak, kawanan itu meminta uang untuk mengisi BBM dumtruk. Saya kasih Rp100 ribu, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Jalan Takengon,” paparnya. “Tiba-tiba salah seorang laki-laki di samping saya memaksa memborgol kedua ibu jari tangan saya. Setelah sukses, seorang lainnya menjerat leher saya dengan tali. Saya lupa tali apa, yang lainnya memukuli saya membabi-buta sampai babak belur. Setelah itu, saya tak ingat apa-apa lagi,” lanjutnya. Saat siuman, Zulkifli merasakan dirinya berada di dalam sebuah jurang (belakangan diketahui di kilometer 27 Jalan Bireuen-Takengon). “Pakaian saya semua diambil, dompet, Ha. Semuanya, saya hanya pakai sempak. Dengan sisa-sisa tenaga saya naik ke badan jalan. Beberapa kali saya coba hentikan mobil tetapi tidak ada yang mau berhenti. Mungkin mereka mengira kalau saya telah meninggal,” ujarnya. Dia maklum orang tak mau membantunya, karena Zulkifli tidak pakai baju, tengah malam lagi. “Lalu saya berjalan menyusuri jalan. Jika ada mobil saya menyingkir ke hutan, ketika mobil lewat saya lanjutkan perjalanan,” kisahnya. Sampai di sebuah rumah warga, Zulkifli menceritakan semua yang dialaminya. “Mereka kasih saya kain sarung, di rumah kedua saya dikasih baju dan celana. Saya minta kepada warga itu untuk menjemput aparat desa agar saya bisa diantar ke polisi,” katanya. Atas bantuan warga, menjelang pagi, Zulkifli ditumpangkan kepada sebuah mobil Taft yang melintas dan diantar sampai Polsek Juli. Di sana dia ceritakan semua yang terjadi. Aparat cepat bergerak memburu tersangka. “Sementara saya dibawa ke RSUD Fauziah untuk diobati. Duh, masih sakit sekali, saya kira saya akan meninggal, ternyata masih diberi umur panjang,” kata suami dari Lina dan ayah dari enam orang anak itu.(del) |
|